Kemisan Jazz: Musik Jazz Bukan Musik Rumit

Kemisan Jazz
Show Kemisan Jazz di salah satu kafe Tenthirty Coffe & Eatery, Malang. Sumber: Dokumentasi Kemisan Jazz

Mantraidea.com- Musik seringkali menjadi pilihan utama untuk mengisi kesenggangan atau bahkan sekedar memecah keheningan. Pendengarnya juga bervariasi, satu orang bisa mendengarkan lebih dari satu genre lagu. Tidak seperti musik pada umum rock maupun pop, musik jazz dianggap memiliki selera tersendiri bagi penikmatnya.

Musik jazz sendiri mulai dikenalkan di Indonesia sejak tahun 1930-an, oleh para musisi pendatang asal Filipina. Aliran musik yang berasal dari Amerika Serikat tersebut, kemudian dibawa kembali oleh musisi orkestra Belanda pada tahun 1948 bersama para penduduk lokal.

Sekelebat setelah musik jazz berhasil diperkenalkan di Indonesia, banyak musisi dengan genre tersebut mulai merebak. Sebut saja musisi jazz favoritmu, mulai dari Ismail Marzuki, Chrisye hingga Eva Celia. Namun pertanyaan yang muncul, tatkala berada di zaman pemakzulan, kita bisa berselancar menjelajahi banyak sekali lagu dari waktu ke waktu. Apakah musik jazz tetap menjadi pilihan utama, untuk didengarkan sewaktu-waktu?

Spesial Kemisan

Komunitas ini dibentuk pada awal pandemi tahun 2020. Tercetusnya ide untuk membuat sebuah band yang didasari pergerakan melestarikan jazz ini, dimulai melalui obrolan iseng satu tongkrongan. 

“Biasanya kita jamming pas hari Kamis, tiba-tiba jadi hal rutin dan malah menarik perhatian orang,” ujar Decky selaku Humas sekaligus musisi Kemisan Jazz. Sejak saat itu lah, hal tersebut mulai menjadi kegiatan rutinan.

Beberapa kali nongkrong, personel Kemisan Jazz rutin gelar jamming di kafe yang ia singgahi. Sumber: Dokumentasi Kemisan Jazz

Nama Kemisan yang dipilih juga bukan tanpa alasan. Terinspirasi dari Jazz Mben Senen asal Yogyakarta. Menariknya, band asal Malang ini hanya bisa dinikmati setiap hari Kamis. Meski begitu tidak mengurangi antusiasme para penikmatnya. Justru, penampilan dari mereka semakin dinanti-nanti oleh penontonnya.

Sayangnya, hingga kini mereka tidak memiliki personel yang tetap, bahkan para penikmatnya bisa dianggap anggota itu sendiri. “Kemisan Jazz membebaskan siapa saja bisa jadi personel, bahkan kita sering main bareng penonton,” ungkap Decky. Meski baru dua tahun berjalan, Kemisan Jazz sudah aktif manggung, mereka sih menyebutnya ngamen. Beberapa festival musik terkenal juga sudah pernah mereka ikuti, seperti event musik tahunan lokal yaitu Ngayogjazz.

Menggaungkan Musik Bareng

Awal kali muncul di Malang, Kemisan Jazz bukan dikenal sebagai band. Namun, sebagai sebuah pergerakan untuk melestarikan genre musik itu sendiri. Sejak dibentuknya pada awal tahun 2020, mereka aktif melakukan pergerakan yang menyentuh lapisan terbawah masyarakat Malang. “Rutin manggung di pasar sampai di alun-alun Malang, ya karena memang sejalan dengan niat kita dulu, yaitu memperkenalkan jazz di pinggir jalan,” ujarnya. 

Kini Kemisan Jazz aktif melebarkan sayapnya dari kafe-kafe yang ada di Malang. Tujuannya sama, guna menggaungkan bahwa musik jazz itu bisa dinikmati oleh semua kalangan. 

Penonton yang turut serta menjadi vokalis dadakan pada penampilan Kemisan Jazz. Sumber: Dokumentasi Kemisan Jazz

Sebut saja, Poppy’s Cafe & Record, menjadi salah satu tempat manggungnya. Alih-alih merasa terganggu, kafe tersebut malah mengaku merasa terbantu. “Adanya Komunitas band ini malah dapat menarik minat pelanggan dengan gampang. Terus juga memang sesuai dengan tema Poppy’s Cafe & Record yang punya segmen live music,” ujar Ogi (21) selaku owner kafe.

Selain kontribusinya untuk mengenalkan musik jazz, Kemisan Jazz berharap agar industri musik jazz di Malang dapat berkembang. Entah dari pelaku atau penikmatnya. Sudah selayaknya bahwa musik seringkali dijadikan sebagai media untuk menyampaikan keresahan. Bahkan, beberapa musisi sering menjadikan musik sebagai tempat bertukar pesan. 

“Musik menjadi salah satu media untuk menyampaikan pesan,” ujar Decky. Menariknya, kalimat tersebut bukan hanya opini semata. Siapa sangka, hal itu ia realisasikan dalam lagu Kemisan Jazz yang berjudul ‘Suwe Gak Petok’ yang ia garap sendiri. Tatkala melihat para anggota yang datang dan pergi. Lagu tersebut sebagai sapaan sekaligus pembuka untuk mengenang memori baik, yang pernah dilalui dengan anggota Kemisan Jazz.

Kesederhanaan Dalam Kerumitan 

Setiap genre musik memang memiliki pendengarnya masing-masing. Sayangnya, stigma jazz yang beredar di masyarakat adalah musik yang rumit. Alih-alih mengikuti stigma tersebut, Decky dan anggota lainnya justru memandang musik ini sebagai musik yang simpel. Tak neko-neko, pakai instrumen musik seadanya, satu gitar dan satu vokalis. Hal itu kerap ia lakukan saat ngamen, entah di pinggir jalan atau di kafe. 

Membicarakan genre musik yang satu ini, tentu tak asing dengan dua kategorinya, musik jazz modern dan klasik. 

“Musik jazz klasik justru lebih kompleks. Ditambah improvisasi dari tiap personel yang selalu baru, nilai sosial pribadiku jadi nambah,” tuturnya. Ia juga menambahkan, perasaan setelah memainkan musik jazz berbeda tatkala kita memainkan musik pada umumnya.

Menilik perjalanan Kemisan Jazz sebagai sebuah pergerakan yang fokus menumbuhkan persepsi positif dari musik. Seolah-olah menyadarkan kita bahwa musik jazz sama seperti musik pada umumnya. Bisa dinikmati sambil rebahan atau ngobrol bareng teman. Musik jazz bukan soal eksklusivitas, semua orang bisa mendengarkan musik jazz tanpa harus membaca ratusan halaman buku pelajaran.

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *