Merajut Benang: Dobrak Kreativitas, Tampik Rasa Bosan

merajut
Komunitas Rajut Malang, kenalkan tren merajut terkini yang lebih stylish. MANTRAIDEA/Lailia Nor Agustina

Mantraidea.com Dahulu dianggap monoton, tapi sekarang rajutan malah semakin populer. Siapa sangka, keberadaannya kini memiliki tempat tersendiri di dunia fesyen Indonesia. Berawal dari dibimbingnya perempuan pribumi oleh noni-noni Belanda saat era kependudukannya di Indonesia ratusan tahun lalu untuk merajut. Beruntungnya, hingga saat ini kriya itu tidak mati.

Justru, rajut telah bangkit dan menjangkau semua kalangan. Tak terkecuali, remaja. Usut punya usut, maraknya K-pop (musik Pop asal Korea Selatan) dan K-drama (Korean Drama) menjadi latar belakang kerajinan ini kembali menampakkan eksistensinya.

Menelisik ke Kota Malang, rajutan bukan lagi menjadi kreasi yang jauh dari jangkauan masyarakat. Bagaimana tidak? Kota yang dikenal dengan Kota Dingin ini, ternyata mempunyai ragam komunitas kreatif. Salah satunya, Komunitas Rajut Malang. 

Merajut Lebih dari Sekadar Rutinitas Klise

Bagi sebagian orang, merajut adalah suatu hal yang membosankan. Apalagi, aktivitas ini kerap dilakukan orang-orang untuk menikmati masa tuanya. Namun, stereotip itu berhasil dipatahkan oleh sekelompok penggemar rajut yang tergabung dalam Komunitas Rajut Malang (KRM). Sejak 2009 silam, komunitas ini berhasil membuktikan bahwa rajutan bukanlah rutinitas yang klise.

Meskipun, fokusnya hanya pada satu hal sederhana, yaitu menyulap helaian benang menjadi berbagai produk. Bagi pengrajin, aktivitas ini jadi medium ekspresi untuk menghasilkan karya seni yang indah dan bermanfaat. 

“Melalui rajut, mereka (anggota komunitas) tidak hanya menghasilkan barang-barang kreatif. Tetapi, juga menjalin hubungan sosial yang erat dan memperkuat ikatan dalam komunitas,” ungkap Dyah Ariestya, selaku Ketua KMR. Ia juga menyebutkan, bahwa komunitas ini ternyata telah memiliki jumlah anggota aktif lebih dari 100 orang. 

anggota KMR merajut
Bagi anggota KMR, merajut adalah kegiatan untuk mengekspresikan karya. MANTRAIDEA/Lailia Nor Agustina

Tak berhenti pada aspek kreatif dan sosial saja. Melainkan, juga KRM juga berfokus pada pengembangan rajutan lebih lanjut. Mengikuti tren terbaru mulai dari kualitas, desain, dan model. Selain itu, KMR juga berdedikasi untuk memberikan kontribusi kepada anggota. Terutama, para perempuan yang membutuhkan hiburan ataupun penghasilan. Oleh karena itu, sesekali juga mendatangkan mentor untuk mengedukasi bagaimana cara efektif melakukan penjualan produk rajutan.

Lebih lanjut, KRM didukung oleh Dinas Koperasi dan UKM (Diskopindag), sehingga sering terlibat dalam pameran ekonomi kreatif di Malang. Alhasil, untuk memenuhi agenda tersebut, stok produk diambil dari kreasi anggota aktif KRM. “Selama kelas berlangsung, pasti ada cek merajut secara berkala. Melihat progres anggota mana yang cocok untuk diajak bekerja sama. Itupun tak semua, ditinjau dari bagaimana mereka berkreasi,” tambah Dyah.

Modal Benang Bikin Ketagihan!

Selain dianggap membosankan, cara merajut juga kerap dianggap rumit. Perhitungan pola awal, rantai, keriting, dan pola-pola lain yang terlihat membingungkan, tanpa terkecuali bagi pemula. Walaupun, ketika mengerjakannya terdapat alat bantu merajut, yaitu jarum untuk menyambungkan komponen rajutan. Benang untuk merajut pun beragam. Mulai dari benang wol, nilon, polyester, dan masih banyak lagi. 

Ini bukan lagi aktivitas kuno. Tapi, tren yang kembali berkembang dengan tampilan, desain, dan motif yang unik, serta penggunaan jangka panjang. Seperti yang dikatakan Ketua KMR, tren rajut 2023 meliputi tas, pakaian, dan boneka. Tak ayal jika banyak ditemui rajutan di berbagai tempat. “Seringnya kami memproduksi tas lucu dan kekinian dengan berbagai model. Ada yang tas selempang, handbag, tote bag rajut, dan aneka tas lainnya,” sebutnya dengan sumringah.

popularitas kreasi seni
Popularitas kreasi tas rajut mini semakin meningkat ditambah polesan warna yang memberikan kesan eye-catching. Sumber/ Dokumentasi @saatsenggang__

Selain tas, pakaian rajut juga sedang booming dan sering dipadupadankan dengan berbagai pakaian lainnya. Menghidupkan mode rajutan dalam era transformasi fesyen yang kian berkembang. Kualitas yang nyaman dan tidak mudah kusut, rupanya mendorong penggiat fesyen untuk berlomba mendesain rajutan yang lebih stylish. Apalagi, hadir dengan model dan cutting-an yang lebih unik sehingga dapat digunakan lintas musim. 

Tak ketinggalan, boneka rajut yang sempat menciut popularitasnya, kini kembali mencuat. “Perbedaan menonjol dalam proses pembuatan adalah benang boneka rajut harus ditarik dengan kuat agar tidak mudah rusak,” ungkap Dyah.

Cuan itu Bonus

Kerajinan tangan rajutan awalnya memang terlihat rumit. Bahkan, beberapa orang menjadi pesimis. Tapi sekalinya bisa, rasa penasaran itu akan menguasai. Bisa dibilang, ‘candu’. Terlebih saat melihat gulungan benang telah berubah menjadi barang yang diinginkan.

Seperti yang dikatakan Rivatul Shabron, ia mengaku awal tertarik dengan kreasi rajutan karena melihat hasilnya yang unik-unik. Rasa penasarannya pun tumbuh. Hingga akhirnya, ibu rumah tangga asal Madura ini menjadikan rajut sebagai ‘healing’. Melepas penat dari aktivitas sehari-hari dengan kegiatan yang tidak merogoh kocek terlalu dalam. 

rajut bukan hal yang membosankan
Rajut bukan lagi jadi hal yang membosankan, justru sebagai hiburan dikala rasa penat itu datang. MANTRAIDEA/Lailia Nor Agustina

Terlepas dari alis yang berkerut karena terlalu fokus merajut. Bahkan, kakunya jari-jemari karena terlalu sibuk mengulang pola. Ternyata, hal itu bukan hanya mengobati kepuasan batin semata. Melainkan, ada manfaat lainnya yang jika diketahui akan ketagihan membuatnya. 

Alih-alih menjadi kerajinan yang sepele, tetapi juga menyehatkan bagi pengrajin. Alasannya sederhana, ketelatenan yang tinggi. Sehingga, koordinasi antara otak dan tangan yang selalu bergerak bisa menjadikan hal ini sebagai terapi. 

“Karena dipaksa bergerak, rajut bisa meredakan stres. Adalagi, bisa menjaga fungsi kognitif biar nggak ‘pikun’, hingga mengurangi resiko penyakit seperti diabetes,” ujar Riva, salah satu anggota KRM. 

Ada rasa senang tersendiri, jika melihat benang yang dirangkainya menjadi sesuatu yang siap pakai. Bahkan, bisa menjadi kado untuk orang terkasih. “Kalau sehari nggak merajut rasanya ada yang kurang. Apalagi, di KRM juga selalu share informasi pola terbaru, jadi pengen selalu coba,” pungkasnya mengakhiri. 

Tim Mantra jadi pengen deh, sekali-kali merajut. Kali ini bukan merajut untuk menyambung kata-kata ya, tapi merajut benang biar jadi produk yang lucu khas Mantraidea. ParaMantra tertarik juga kan? Komen, yuk!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *