Museum Ganesya: Tingkatkan Edukasi Budaya Generasi Muda

Museum Ganesya
Koleksi manik-manik peninggalan sejarah kerajaan tertata rapi di Museum Ganesya. MANTRAIDEA/Dafa Wahyu Pratama

Mantraidea.com- Belajar sejarah kebudayaan nggak melulu membaca buku, loh! Siapa sangka, museum juga  menjadi tempat seru untuk menambah wawasan sejarah. Bahkan, juga bisa langsung melihat bentuk fisik peninggalannya. Jelajah Kota Malang, kurang rasanya kalau tidak mampir ke tempat yang menyimpan artefak kebudayaan Nusantara. Salah satunya, Museum Ganesya yang terletak di Jalan Graha Kencana, Singosari, Kota Malang. Dimana museum ini satu gedung dengan Hawai Waterpark Malang.

Konsep Baru Museum Sejarah

Museum Gelar Indonesia Budaya atau lebih dikenal sebagai Museum Ganesya. Diresmikan pada 12 Juli 2019 oleh Muhadjir Effendy, kala itu menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Hadirnya museum ini diharapkan dapat memberi edukasi kepada generasi muda. Terutama untuk menggali informasi tentang sejarah dan kebudayaan. 

Monoton. Ya, hal itulah yang kerap kali terbesit di pikiran ketika mendengar museum. Tapi tenang saja, Museum Ganesya menghadirkan konsep baru ramah pengunjung. Upaya membuat kesan asyik dan tidak membosankan terus dilakukan. Seperti halnya menambah arena wahana yang dapat digunakan pengunjung untuk belajar dan bermain. “Sembari itu, mereka juga dapat menikmati kajian-kajian sederhana di museum ini,” ujar Ampri Bayu, selaku tour guide museum.

Kerennya, Museum Ganesya termasuk museum yang melek terhadap perkembangan teknologi. Penyediaan fitur scan barcode yang bisa langsung terhubung dengan video interaktif pun dihadirkan. Hal itu, ditujukan untuk pengunjung agar dapat menggali informasi lebih detail tentang benda koleksi. 

Potret ruangan dan penyusunan peninggalan bersejarah pun tertata dengan rapi, yang ternyata ada sentuhan tangan hebat di baliknya. Manajemen museum bekerja sama dengan para kurator yang memang sudah ahli dalam menentukan storyline museum. Sehingga, dengan mudahnya pengunjung dapat mengikuti alur cerita yang dikombinasikan dengan berjejernya benda koleksi.

Jelajah Koleksi Museum Ganesya

Bicara soal tata pamer dan koleksi, saat ini Museum Ganesya memiliki lebih dari 10.000 koleksi bersejarah. Menariknya, deretan koleksi itupun dibagi menjadi dua lantai dengan menghadirkan cerita yang berbeda pula.

Lantai pertama, pengunjung akan dikenalkan dengan cerita peradaban kerajaaan Majapahit dan Singasari. Emas, perunggu, celengan, manik-manik hingga Keris Nagasasra terpampang nyata menghiasi ruangan. 

Bahkan, ada juga patung Kertanegara, raja kelima dan terakhir sebelum keruntuhan Kerajaan Singasari. “Koleksi itu hampir 80% asli. Beberapa juga ada replika untuk mendukung tema yang dipamerkan,” jelas Bayu.

Patung Kertanegara dan Keris Nagasasra. MANTRAIDEA/Dafa Wahyu Pratama

Di sudut lain, terdapat wayang golek versi Presiden Republik Indonesia. Mulai wayang Soekarno sampai Joko Widodo lengkap dengan senjata dan pusaka yang tertata rapi di lemari kaca. 

Menjelajah lebih dalam, pengunjung akan menemui museum temporary. Museum yang bertema khusus dan konsepnya selalu diperbarui. Menariknya, Museum Ganesya sudah dua kali memamerkan tema yang diusungnya. Awal kali, tentang benda-benda mistik. Kini, memamerkan tentang dunia pendidikan dan permainan di Nusantara. Alih-alih berhenti disitu, pihak museum akan terus berinovasi untuk menambah tema di museum temporary ini.

Saat naik ke lantai berikutnya, pengunjung akan disambut oleh Punakawan corner. Tokoh punakawan itu berjejer di sepanjang dinding ruangan. Menariknya, Punakawan yang dipajang memiliki ciri khas gaya dari berbagai daerah seperti Jawa Timur, Surakarta, Yogyakarta, dan Cirebon.

Koleksi topeng hasil karya pengrajin Malang. MANTRAIDEA/Dafa Wahyu Pratama

Tak hanya itu, koleksi topeng Cirebon dan topeng Malangan yang bercerita tentang Mahabarata dan Ramayana turut terpampang. “Perbedaan yang mencolok topeng Cirebon warnanya lebih cerah, sedangkan topeng Malangan lebih soft,” terangnya. Ia mengaku, koleksi tersebut didapatkan dari dalang yang mana topengnya sudah tidak digunakan. Serta, hasil karya seniman topeng Malang Raya dan se-Nusantara.

Beragam koleksi wayang dengan mudah ditemui dalam satu gedung ini. Mulai dari wayang kulit, wayang krucil Malangan, wayang thengul, serta wayang potehi. Hingga wayang golek Wali Songo yang merupakan tokoh penyebaran Islam di Pulau Jawa pun ada. Tentunya, masih banyak lagi. 

Kontribusi Nyata 

Museum Ganesya memang gudangnya artefak kebudayaan Nusantara. Sudah selayaknya museum ini dapat menarik minat pengunjung. Menambah toko souvenir yang produknya asli dari perajin seni menjadi rencana kedepan museum ini. “Nanti menjual kaos, benda-benda koleksi dan yang lainnya. Hal itu juga menjadi salah satu bentuk dukungan untuk para perajin, semoga segera terwujud,” tutup tour guide museum itu. 

Ia juga berpesan agar generasi muda untuk selalu mempelajari dan melestarikan kebudayaan. Alasannya, kebudayaan adalah salah satu identitas dan kekayaan yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia. Disamping beragam, budaya Indonesia memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh negara lain.

Menjaga warisan budaya adalah tugas kita bersama, tugas seluruh masyarakat Indonesia yang harus digentarkan. Kontribusi nyata dari adanya museum kebudayaan perlu lebih diperbanyak. Tujuannya, agar anak cucu juga dapat mengetahui seluk-beluk dari budaya Indonesia.

 

Mantraidea infografis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *