Media Sosial bukan Sekadar Like dan Subscribe

AI
Sumber. Freepik.com

Mantraidea.com- Halo Paramantra! Mungkin kalian pernah scroll media sosial dan nemuin akun yang tampilannya eye catching. Yap! Hal tersebut memang sengaja dibuat agar kalian betah menyelami akun itu. Apalagi saat ini, para generasi muda mulai memanfaatkan media sosial sebagai ladang cuan. Berbekal kreativitas, inovasi dan kemauannya, tak jarang dari mereka yang sukses meraup untung. 

Profesi Anyar Bidang Media Sosial 

Di era yang serba digital ini, tentu sudah tak asing dengan yang namanya media sosial (medsos). Menurut laporan We Are Social, saat ini tercatat 167 juta orang Indonesia yang menjadi pengguna aktif sosial media. Dengan rata-rata waktu yang dihabiskan untuk bermain medsos selama 197 menit atau sekitar 3,2 jam perhari.

Berangkat dari data tersebut, memancing adanya profesi baru yang berhubungan dengan media sosial. Mulai dari yang di depan layar seperti selebgram atau KOL (Key Opinion Leaders), sampai yang di belakang layar seperti social media agency.

Tahu gak sih apa itu social media agency? Yap! Pihak ketiga yang membantu klien dalam mengelola branding melalui platform media sosial. Tentunya, mereka punya tim dengan job desk masing-masing. Social media manager, social media strategist, illustrator, social media officer. Satu lagi yang tak kalah krusial, yaitu desain grafis. 

Belakangan ini, desain grafis menjadi salah satu bidang yang sedang diminati terutama oleh kawula muda. Menggeluti bidang ini memang bisa dilakukan oleh siapa saja. Bukan hanya dari mereka yang berpengalaman atau berjiwa seni. Apalagi, tak ada persyaratan khusus untuk terjun di desain grafis. Keren bukan?

Seperti yang dilakukan Irfan Muhammad Ramadhan, alumni mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Muhammadiyah Malang. Sejak di bangku perkuliahan, ia telah mencoba berkecimpung di desain grafis. Berawal dari membantu membuat desain media sosial bisnis milik temannya. Tanpa disadari, ia pun mulai ‘kepincut’ untuk menekuni bidang tersebut. “Dulu bantu bisnis teman, lama kelamaan udah dapat feeling-nya,” ujarnya sambil tersenyum.

Jual Jasa, Untung di Pengalaman

Sebelum masuk agensi, ia menjajal freelance sebagai desainer media sosial. Lagi-lagi melalui medsos Irfan mempromosikan hasil desainnya, Instagram dan Linkedin dipilihnya. Desain medsos digelutinya. Alasannya, banyak tantangan yang beragam dari klien, sehingga bisa meningkatkan kemampuannya dalam bidang itu. “Seru, permintaan klien itu yang buat aku menikmati desain ini. Terus, ada kesenangan tersendiri ketika membantu bisnis dari klien,” jelasnya.

Salah satu hasil desain dari Irfan Muhammad Ramadhan. Sumber: Instagram @samnafri_

Kerennya, saat ini ia tergabung dalam perusahaan social media agency Socioworks. Tentunya, banyak UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) dan perusahaan besar yang telah menggunakan jasa desain darinya. Ia mengaku, klien dari Gajah Duduk, Excelso, dan Sony Indonesia paling berkesan selama ia bekerja di perusahaan itu. 

Profesi desain grafis saat ini sangat banyak dibutuhkan dalam industri kreatif. Menurutnya, medsos adalah platform yang fleksibel. Salah satunya, bisa digunakan untuk promosi produk. Oleh karena itu, tampilannya harus dikemas dengan apik agar brand dapat menjangkau target audience yang mereka inginkan. “Memang tidak menjual secara langsung, tapi bisa memberitahu kalau produk itu ada,” tuturnya.

Terlepas dari hal itu, Irfan mengaku bahwa melalui desain grafis ia dapat mengenal dan menambah ilmu dari banyak orang. Terutama dalam komunitas yang ia ikuti. Terlebih, beberapa anggota komunitas itu punya pengalaman menggarap desain permintaan klien dari mancanegara. 

Tidak Semudah Membalikkan Telapak Tangan

Dibalik kesenangannya mengotak-atik sebuah desain, pasti ada saja kerumitan yang terjadi. “Buat desain untuk satu bulan dengan deadline-nya hanya satu atau dua hari,” ucapnya. Menurutnya, dengan waktu yang singkat membuat desainnya jadi kurang maksimal. 

Tak jarang, orang lain memandang proses desain dengan sebelah mata. Hanya mengganti background, menambahkan teks ataupun tinggal tempel gambar saja. Padahal, untuk melewati satu proses saja memerlukan kreativitas dan ketekunan yang tinggi. 

Aneh, ribet, unik, biasa ia temui dalam desain yang di-request oleh kliennya. Irfan mengaku bahwa ia tetap membutuhkan referensi dari medsos lainnya maupun website desain grafis.

Desain untuk produk susu, menjadi desain yang paling menancap dalam ingatannya. Ia mengaku brief dari kliennya tersebut unik tapi lumayan susah. “Klien minta desain ada gambar berjabat tangan, tapi tangannya dibuat seperti percikan susu,” imbuhnya.

Kreativitas, inovasi, dan jam terbang, diuji pada tahap itu. Tapi, Irfan menjadikannya sebagai tantangan untuk mengasah kemampuannya. Meski harus melewati revisi yang berkali-kali. 

Siapa sih yang tak pernah merasa gagal? Hal itulah yang pernah Irfan rasakan. Ketika desain yang telah ia selesaikan, ternyata tidak digunakan oleh kliennya. Memang terkesan ‘sepele’, tapi bagi orang yang di tahap berusaha itu membuat mereka merasa dikecewakan.

Irfan juga merasa was-was dengan adanya artificial intelligence (AI) yang saat ini bermunculan. Menurutnya kedepannya klien hanya memanfaatkan kemudahan dari fitur artificial intelligence, sehingga tidak terlalu membutuhkan jasa desain grafis untuk produknya. Tapi tetap saja, teknologi adalah teknologi yang tidak bisa menyaingi ide dari pemikiran manusia. 

Tak bisa disangkal bahwa dalam usaha menekuni desain grafis, terus belajar dan banyak praktik adalah hal utama. Tak usah malu, jika ada orang yang mengkritik dan memberikan masukan mengenai desain. Anggap saja itu adalah bentuk support orang lain terhadap kita yang berproses.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *