Pemaknaan Inspirasi dalam Lukisan Kontemporer

Muhammad Ivan, Pelukis kontemporer
Muhammad Ivan (Ivo), pelukis asal Mojokerto yang mengikuti tren kontemporer sebagai inspirasi teknik dalam menghasilkan beragam karyanya. MANTRAIDEA/Lailia Nor Agustina

Mantraidea.com – Kekinian, rupanya menjadi diksi yang seolah-olah mendeskripsikan pergaulan seni lukis saat ini. Berjalan mengikuti tren dengan berbagai revolusinya. Seperti lukisan kontemporer yang kehadirannya telah muncul ke permukaan. Menjadikan tren baru yang mulai diikuti para perupa.

Pelukis beraliran kontemporer tak hanya berkembang di kota besar saja. Melainkan, seniman daerah pun banyak yang mengekspresikan karyanya dengan pendekatan tersebut. Termasuk dalam menuangkan gambaran yang terinspirasi dari cerita sekitar, memberikan warna baru dalam dunia seni lukis. Terlebih, ragam corak indah yang dituangkan dalam lukisan kontemporer menyimpan makna khusus dibaliknya.

Tren Lukis Berubah

Penyuka, penikmat, atau bahkan seniman seni di Indonesia telah merajalela dengan hebatnya. Karya lukisan miliknya mampu menarik intuisi siapapun yang melihatnya, entah dalam sekejap mata atau dalam waktu yang lama. Berdiri terpaku memikirkan apa makna yang ingin disampaikan seniman melalui lukisannya. 

Usut punya usut, tren lukis tahun 2023 mulai berganti seiring berjalannya waktu. Teknik, bentuk, dan masih banyak lagi menjadi saksi bisu perubahan itu. Seperti yang dikatakan Muhammad Ivan, “Lukisan sekarang beda dengan yang dulu. Saat ini, seni yang lebih dianggap adalah nggak realis.” Dari situlah, teknik kontemporer dipilihnya untuk mengiringi perjalanan dari beberapa karya kebanggannya.

Lukisan Kontemporer
Lukisan kontemporer disertai dengan penulisan kata yang tak berurutan menjadi seni yang kian diminati generasi milenial. MANTRAIDEA/Lailia Nor Agustina

Menurutnya, teknik itu telah membawa hal yang baru bagi geliat seniman lukis. Mencoba mengulik tuntas sebuah ide agar menjadi konsep baru lagi. “Kalau bisa gambar kuda dengan bentuk yang berbeda. Adanya pemaknaan berlebih dari orang lain, itulah yang sekarang dianggap seni,” tambahnya.

Acak tapi Bermakna

Melacak jejaknya, ada salah satu lukisan yang benar-benar menggunakan teknik kontemporer itu. Seakan-akan dibalut dengan beberapa kata acak dalam karyanya. Menjadi magnet siapapun yang melihatnya. Meraba dari tiap kata dan gambar yang dilukisnya dalam kanvas berukuran 50×40 cm. Bertema kan cinta yang dimaknai bukan hanya dalam lingkup kecil. Menurut seniman asal Mojokerto, Jawa Timur ini, cinta itu bisa human, barang, keluarga, atau yang lainnya.

‘Garuda di Dadaku’ dipilihnya menjadi judul karya lukis yang terinspirasi dari kemenangan Timnas beberapa waktu lalu. Berlatar cat akrilik warna kuning dipadu hitam. Namun, tak ada arti khusus dari pemilihan warna. “Aku pengen dan aku suka. Kalau maknanya nyambung dengan ungkapan ceria dan penuh harapan,” ucapnya sembari senyum. Ia memang berprinsip bahwa ide dan gagasan itu spontan, jadi harus direspon dengan cepat. Sebagai hasilnya, karya “Garuda di Dadaku” menggunakan bahan dasar akrilik berhasil diselesaikan dalam waktu kurang dari seminggu.

Lukisan kontemporer yang ditambah dengan sentuhan sedikit abstrak memang terkesan membingungkan. “Tapi, dibalik gambar yang nggak jelas kita harus bernarasi kan ya,” sahutnya. Dalam karya lukisnya ada simbol negara, yaitu garuda. Disertai beberapa tulisan acak yang mungkin jika dilihat dari jauh terkesan ‘semrawut’. Faktanya, tulisan itu terdiri dari bahasa cinta, bunyi nasionalis, dan pembuktian terhadap cinta tanah air.

‘Bangsa’ dan ‘kupertaruhkan’ menjadi bagian penting dari penggalan dua kalimat yang tertulis secara acak pada karya ‘Garuda di Dadaku’. MANTRAIDEA/Lailia Nor Agustina

Geliat Pameran Lukis

Pelukis yang kerap disapa Ivo ini, telah berkiprah sejak lama. Melewati gelombang pasang surutnya dunia pelukis dan menghadapi ragam emosi dalam setiap karyanya. Mulai dari ide ataupun kendala dari luar. Sebagai seorang pelukis profesional hal itu bukan menjadi tantangannya, melainkan menjadi penguatnya dikala mengerjakan suatu lukisan.

Aktif berkarya saja tidak cukup untuk mendukung perkembangan kreativitas, kalau tidak di ikut sertakan dalam ajang pameran seni. Melalui pameran seni, karya-karyanya dapat terpapar dan terhubung dengan penonton yang beragam. Akibatnya, dapat memperluas pengaruh dan memberikan kesempatan pengakuan serta apresiasi dari siapapun yang melihatnya.

“Pameran bukan ajang gengsi, tapi ajang menguatkan mental dan mengeksplor kreativitas,” ujar pelukis yang kerap disapa Ivo ini. Pasar Seni Lukis Indonesia (PSLI), pameran di luar kota, hingga pameran yang diadakan di lingkungan kampus pun pernah dijajalnya. 

Perihal hasil, tak perlu diragukan lagi. Ia pernah memboyong kategori pendatang baru. Disisi lain, ia juga pernah lolos seleksi di galeri nasional yang berada di Jakarta sebanyak tiga kali dan laku. “Pernah kepikiran nggak mungkin lolos, karena yang ikut 1200 orang dan diambil sekitar 60 atau 80 orang dari seluruh indonesia,” ujarnya heran.

Menjadi pelukis adalah takdir yang menjadi jati diri. Tak heran, jika seorang pelukis akan menghabiskan masa hidupnya di seni. Tapi, bukan berarti mereka hanya terkekang dan berputar di satu sisi saja. Geliat seniman saat ini patut diapresiasi dari tiap karya yang dihasilkannya, karena suatu karya tak hanya datang begitu saja. Ide dan gagasan adalah bagian termahal dari suatu karya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *