Sate Gebug: Kuliner Legendaris yang Gugah Selera sejak 1920

sate gebug
Kuliner unik dengan sate yang digebuk disajikan oleh Warung Sate Gebug yang berlokasi di Jl. Jenderal Basuki Rahmat. MANTRAIDEA/Nurjihan Nabilahsari

Mantraidea.com – Kelezatan yang tak tertandingi terus dihadirkan oleh sate gebug. Kuliner legendaris di Kota Malang ini telah berhasil memikat hati para pecinta makanan sejak tahun 1920. Terlebih, bahan dasar yang digunakan adalah daging sapi tenderloin yang lembut. Terletak di Jl. Jenderal Basuki Rahmat, Kota Malang, tempat ini menyimpan sejarah panjang. Disisi lain, resep warisan turun temurun melingkupi Warung Sate Gebug yang telah menjelma menjadi kuliner berkelas. 

Sang Legendaris

Berkat tangan magis Rusni, generasi ketiga dari warung sate ini yang memilih berinovasi di bidang kuliner. Perjalanan usahanya diwarnai dengan lika-liku yang dijadikannya sebuah motivasi. Melewati derasnya arus makanan baik lokal maupun luar. Beruntungnya, warisan kuliner ini tetap mempertahankan resepnya. Sehingga, keberadaannya tak lekang oleh waktu. 

Dalam pembuatannya sate gebug, daging sapi dipukul dengan tujuan untuk memutuskan serat yang agak keras. “Meskipun dagingnya sendiri memiliki tekstur yang cukup lembut, penggebukan tetap dilakukan agar sate ini memiliki keunikan dalam rasa dan tekstur,” jelas Rusni. Hal itu, juga ditujukan guna memaksimalkan ciri khas rasa dari sate gebug. Menariknya, proses pembakarannya pun masih manual dengan menggunakan arang yang dikipasi, menciptakan aroma dan cita rasa yang autentik.

Proses pembakaran sate di atas arang dengan resep bumbu rahasia turun-temurun. MANTRAIDEA/Nurjihan Nabilahsari

Dari luar, warung berukuran 7×8 meter itu nampak seperti warung pada umumnya. Namun, ketika menginjakkan kaki ke dalam, suasana Belanda dari bangunan itu mulai terasa. Berada tepat di koridor Kayutangan, Kota Malang, warung ini memiliki sejarah panjang dan menarik untuk dikulik. Pada tahun 1910, awalnya toko es batu berdiri di tempat ini. Sayang, bangunannya telah melalui perubahan fungsi selama bertahun-tahun, sebelum akhirnya menjadi ikon kuliner yang terkenal di Malang.

Dengan lokasinya yang terletak di pusat kota, makanan ini menjadi destinasi wisata kuliner yang populer. Para pengunjung dapat dengan mudah menemukan dan menikmati kelezatan sate di tempat yang menyimpan ragam cerita di dalamnya. Nilai sejarah dan kekayaan budaya ditorehkan dalam tempat ini dapat mengingatkan siapapun yang singgah. Namun, tak hanya pesona bangunan saja yang disuguhkan, melainkan juga cita rasa yang menggugah selera.

Kelezatan Sate

Keunggulan utama menu dari warung ini adalah penggunaan daging sapi jenis tenderloin. Kelembutan dan kelezatan yang luar biasa dari daging tersebut telah menjadi daya tarik tak tertandingi bagi para penikmat kuliner. Setiap suapan menghadirkan sensasi yang memanjakan lidah, menjadikan pengalaman makan yang tak terlupakan. “Kuliner yang menarik buat dijajal terutama teruntuk pelancong. Jadi, kualitasnya harus bermutu tinggi agar disetiap gigitan rasanya tetap melekat di lidah mereka,” tambah Rusni. Namun, karena stok daging tenderloin tidak selalu melimpah, jumlah porsi sate harus disesuaikan agar tetap memenuhi permintaan pelanggan. 

Satu tusuk sate gebug siap untuk dinikmati dengan menghadirkan cita rasa istimewa. MANTRAIDEA/Nurjihan Nabilahsari

Lili selaku pelanggan mengungkapkan bahwa ia sangat menyukai cita rasa sate gebug. Ia menambahkan, “Rasanya cocok dengan lidah orang Indonesia, karena perpaduan rempah dan daging tenderloinnya menambah rasa spesial.” Lili mengaku tak puas jika hanya makan satu tusuk sate saja. Rasa yang sedap, membuatnya ingin terus menyantapnya. 

Namun, pelanggan lainnya, Ahmad Afrizal mengungkapkan bahwa harga yang ditawarkan cukup mahal bagi kalangan mahasiswa. Sate dengan yang berlemak dibanderol dengan harga Rp. 30 ribu, sedangkan harga sate tanpa lemak adalah Rp. 35 ribu.  Oleh karena itu, ia hanya mampu menikmati kelezatan sate ini sebulan sekali. “Maklum, anak kos jadi harus mengirit. Kalaupun mau, ya buat self reward aja,” guraunya. 

Warung yang dikelola Rusni, tak hanya menghadirkan menu sate saja. Melainkan, juga memberikan pilihan menu lain, seperti sayur sop, rawon, dan soto. Dibanderol dengan harga yang terjangkau, yaitu Rp. 25 ribu. 

Nuansa warisan tradisi yang terasa begitu kuat, warung ini mampu menyatukan generasi dan melintasi batas-batas waktu. Dalam setiap kunjungan ke tempat makan ini, siapapun akan dibawa dalam sebuah perjalanan menyelami warisan kuliner yang tak ternilai harganya. Dengan demikian, Warung Sate Gebug menjadi destinasi wajib bagi pecinta kuliner dan para penggila sejarah yang ingin merasakan kelezatan sate yang tak terlupakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *