Ubah Hobi jadi Cuan, Ecoprint Modal Bahan Alami

Ecoprint, kain bercorak yang dikembangkan menjadi bisnis melalui Griya Madukara. MANTRAIDEA/Ratna Diana.

Mantraidea.com- Orang bilang ‘keseimbangan akan terjadi kalau kita menjaga alam’. Itu juga yang mungkin Meilina percaya, wanita yang memiliki kecintaan pada seni dan alam. Namun, ternyata kegemarannya dalam membatik justru menimbulkan limbah yang berdampak pada apa yang ia cintai.

Langkah Pilihannya

Meilina, seorang yang menyukai seni. Terbukti dari pengalamannya yang sempat mempelajari batik. Sebuah kain warisan budaya bangsa yang memiliki corak khas. Namun, hal ini tidak membuatnya puas. Ada sesuatu yang mengganjal dalam nuraninya, yaitu kecintaannya pada alam.

Selama prosesnya, batik ternyata tidak menjadi sahabat lingkungan. Pewarna dan bahan lain di dalamnya mengandung zat kimia. “Sebenarnya bisa menggunakan pewarna alami, tapi ribet,” keluhnya yang mengantarkan Meilina untuk berinovasi.

Selanjutnya, yang Meilina lakukan merupakan langkah besar. Ia menemukan alternatif kain bercorak yang masih bersahabat dengan lingkungan, ecoprint. Ia meyakini bahwa ecoprint tidak merusak apa yang ia cintai. Muncullah gagasan untuk mengembangkan batik yang ramah lingkungan ini. Memperkenalkannya ke masyarakat luas dengan menjadikannya bisnis melalui Griya Madukara, usaha yang ia dirikan.

Bahan yang mudah ditemukan, proses pembuatan yang cukup dengan memanfaatkan hasil alam. Hambatan dari proses yang jarang, serta modal yang minim. Tak heran jika peluang bisnis ecoprint cukup menjanjikan. 

Ecoprint turut serta dalam mengkampanyekan eco friendly atau gaya hidup ramah lingkungan. Berikut mendukung tren back to nature. Bukan hanya mengandalkan motif dan warna alami. Tapi, juga mengajarkan manusia untuk lebih peduli dan menghargai alam. Minimnya produsen yang menggeluti ecoprint, membuat peluang bisnis ini lebih besar.

Bebarengan dengan hal itu, ecoprint ternyata bukan asli warisan nenek moyang bangsa ini. Hal itu yang semakin meyakinkan Meilina untuk membuat ecoprint dengan corak Indonesia. “Karena tiap negara kan punya tanaman endemiknya masing-masing,” ujarnya. Maka, beberapa upaya Meilina lakukan.

Alam dan Timbal Baliknya

Ecoprint, teknik memberi pola pada kain dengan bahan alami. Pemanfaatan daun, bunga, batang, atau bagian tanaman lainnya yang dapat menghasilkan pigmen warna. Sayangnya, tidak semua jenis tanaman bisa menjadi bahan dasar ecoprint. Getah tanin tinggi menjadi komponen utamanya. Misalnya dari daun cemara, jarak, air mata pengantin, secang dan yang lainnya.

Proses pemolaan (pembuatan motif pada ecoprint) dengan bunga dan daun yang memiliki getah tanin tinggi. MANTRAIDEA/Ratna Diana.

Lagi-lagi berkat kecintaannya pada alam, Meilina pun menegaskan untuk tetap memperhatikan cara memetik tanaman. “Ambil seperlunya saja, jangan tebang habis-habisan,” tuturnya. Pemilik Griya Madukara ini menyadari bahwa ia sangat membutuhkan alam. Sebagai timbal baliknya, memilih dan mengambil tanaman tidak boleh asal-asalan. 

Tak hanya itu, Meilina juga memperhatikan jenis kain yang digunakan. Kain yang tidak mengandung polyester (kandungan plastik dalam kain). Sifat plastik yang licin dan tidak menyerap warna dengan sempurna menjadi alasannya. 

Apresiasi dan Bisnis

Keunikan produk ecoprint ternyata menarik minat banyak orang. Meilina mengembangkannya sesuai dengan sustainable fashion atau fesyen yang berkelanjutan. Kain ecoprint sangatlah eksklusif dan motifnya fleksibel sehingga dapat menyesuaikan perkembangan zaman. 

Menjadi suatu karya seni yang bernilai tinggi, karena proses pembuatan yang memerlukan waktu panjang, meskipun tidak serumit membatik. Cuaca dan keeksklusifan tanaman menjadi pertimbangan Meilina dalam menentukan komersialnya. Sehingga membutuhkan pemahaman dan kesabaran dalam membuka bisnis ini. 

Berjalannya waktu, ia tidak hanya memproduksi ecoprint dalam bentuk lembaran kain saja. Perlahan, Griya Madukara mulai melirik produksi pakaian jadi, tas, bucket hat dan sepatu. Menariknya, saat ini juga mulai mencoba produksi sampul buku. Inovasi terus ia kembangkan mengingat motif yang diberikan hanya seputar tumbuhan. Kreasi terbarunya, memadukan bahan kulit sebagai dasar motif ecoprint.

Ecoprint
Beberapa tas produksi Griya Madukara, perpaduan kain dengan kulit. MANTRAIDEA/Ratna Diana.

Dengan ragam produk ecoprint itu, tentunya banyak permintaan masuk. Seperti pada akhir 2021 lalu, Griya Madukara mampu menarik perhatian warga asing. Seseorang dari negeri ‘Paman Sam’, lebih tepatnya kota metropolitan New York. Namun, karena permintaannya yang terasa sulit, Meilina pun menurunkan egonya untuk berkolaborasi dengan label ecoprint lainnya.

Aeleen Craft, bisnis ecoprint oleh Anggreana Nila Agustina. Merasa cocok dan sejalan, merekapun kerja sama dalam menggarap permintaan pembeli luar itu. Tak tanggung-tanggung, mereka berupaya memaksimalkan kualitas yang mereka berikan. “Gak usah takut kolaborasi, justru itu akan mendatangkan keuntungan yang berlipat,” ujarnya sembari tersenyum. 

Semenjak itu, Griya Madukara dan Aeleen Craft bahu membahu mengerjakan permintaan pembeli. Beragam event, promosi, pengembangan bisnis terus menerus dari kedua belah pihak. Promosi pun dengan mengikuti pameran, workshop, dan pemanfaatan sosial media seperti Instagram.

Seperti saat pameran, tentunya salah satu label itu lebih dominan, dan satu label berikutnya sebagai support system. “Kita harus legowo, toh nantinya demi kebaikan bersama,” ucap pemilik Griya Madukara. Faktanya, setelah melakukan kolaborasi, omzet keduanya selama satu bulan naik drastis dari sebelum kolaborasi. 

Menyatukan gagasan, bekerja sesuai bidangnya, dan saling support adalah teamwork yang menjadi kunci dalam berbisnis. Perbedaan pendapat sudah selayaknya mengiringi dua label atau lebih yang terikat dalam kerja sama. Tapi, bagaimana cara menyelesaikannya adalah upaya melihat seberapa berhasilnya kolaborasi itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *