Ternyata Keseringan Belanja Online Bisa Buat Gaji Numpang Lewat

gaji numpang lewat
Gaya hidup konsumtif dan pengaruh FOMO, sebabkan gaji cuma numpang lewat. MANTRAIDEA_Dafa W. Pratama

Mantraidea.com – Sering merasa kalau gaji numpang lewat aja? Ternyata hal itu bisa dipicu oleh banyak faktor yang kemungkinan besar dari aktivitas ParaMantra. Apalagi, ketika mengikuti keinginan yang tak ada habisnya. Entah check out di aplikasi belanja online atau malah memilih top up game termurah.  

Meskipun sebagian orang mungkin melakukan kebiasaan itu karena memang kebutuhan. Tapi, nggak menutup kemungkinan bahwa fenomena FOMO (Fear of Missing Out) juga turut menjadi pemicunya. Seperti membeli barang-barang atau produk secara impulsif dan mengikuti gaya hidup sesuai tren yang sedang terjadi. Alhasil, gaji numpang lewat tanpa memberikan dampak yang signifikan dalam keuangan pribadi.

Belanja Online, Keinginan atau Kebutuhan?

Semakin pesatnya era digitalisasi saat ini, fenomena belanja online telah menduduki puncak.. Hal ini terbukti dari lonjakan penggunaan aplikasi belanja online dan meningkatnya transaksi pembayaran online setiap tahunnya. We Are Social dan Meltware pada Januari 2024, juga mengungkapkan bahwa 59,3% pengguna internet di Indonesia menggunakan uangnya untuk berbelanja melalui e-commerce.

Kemudahan dalam segi akses ternyata memberi kenyamanan dan pengalaman tersendiri bagi konsumen. Berbagai produk dan layanan ditawarkan tanpa batasan waktu maupun jarak. Terlebih, banyaknya opsi kualitas hingga promo meriah di hari tertentu turut mendorong pembelian impulsif yang berdampak pada gaya hidup konsumtif.

“Kalau check out belanjaan online sebulan bisa lima kali sih,” ujar Almeera Jhulia, pengguna aplikasi belanja online. Ia menjelaskan bahwa pembelian itu seringkali karena memang kebutuhannya. Disisi lain, godaan diskon dengan persentase cukup besar membuatnya lupa bahwa pembelian tersebut belum mendesak. Tanpa disadari, gaji numpang lewat dan hanya singgah sebentar di dompet.

belanja online
Salah satu kebiasaan masyarakat berbelanja online berakibat pada menipisnya uang bulanan. Sumber/Canva.com

Tapi, kalau melihat kebiasaan di lingkungan sekitar, penggunaan uang bulanan tersebut nyatanya tak hanya sebatas membeli kebutuhan pribadi. Tapi, gaya hidup konsumtif ini juga bisa sebagai ajang mencari hiburan. Seperti top up game termurah sebagai distraksi saat waktu luang.

Beragam jenis gim yang ditawarkan melalui app store kian membuat banyak kalangan memainkannya. Sebut saja Mobile Legends, PUBG Mobile, Free Fire, dan masih banyak lagi. Bukan rahasia lagi kalau beberapa gim juga memerlukan dana untuk meningkatkan pengalaman bermain atau sekadar menambah item gim. 

Hingga akhirnya, menyasar top up game termurah. Uang bulanan yang seharusnya ditabung, jadi sasaran empuk untuk membeli penunjang hiburan tersebut. Padahal, penting bagi individu untuk dapat mengatur keuangan dengan baik. 

Selektif Atur Gaji Agar Tak Konsumtif

Banyak yang terjebak dalam gaya hidup konsumtif, mirisnya gaji numpang lewat tergerus oleh belanja online tanpa memperhitungkan kebutuhan pokok atau tabungan masa depan. Oleh karenanya, penting memahami untuk memanfaatkan potensi dari gaji yang diterima. 

Dosen Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kenny Roz menyebut bahwa banyak orang mengadopsi gaya hidup yang tak sesuai dengan kapasitasnya. “Hanya karena lingkungan media sosial menunjukkan pola hidup tertentu, bukan berarti kita harus mengejar hal yang sama,” tegasnya.

Konsumtif
Ilustrasi gaya hidup konsumtif yang tidak sesuai kebutuhan. Sumber/Canva.com

Lebih lanjut, ia menawarkan langkah produktif untuk mengantisipasi gaji numpang lewat. Uang bulanan yang diterima dapat dialokasikan untuk modal investasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) milik sendiri. Terlebih, usaha sampingan ini juga memberikan peluang untuk meningkatkan pendapatan secara berkelanjutan. 

Misalnya saja, seorang karyawan bisa memanfaatkan keahlian atau hobi mereka sebagai modal untuk membuka usaha sampingan. Mulai dari membuat kue, menjual produk handmade, atau membuka jasa konsultasi sesuai dengan bidang keahliannya. Alhasil, pendapatan tambahan yang dihasilkan dapat menjadi peluang untuk mengurangi ketergantungan pada gaji bulanan dan gaji numpang lewat pun tak terjadi. 

Selain itu, perlu untuk mengidentifikasi alokasi dana, terutama untuk kebutuhan hiburan. Kenny menyebut, “Hal ini dapat dilakukan dengan membuat anggaran bulanan yang mencakup berbagai pos pengeluaran, termasuk kebutuhan pokok, tabungan, dan hiburan”. 

Kalau hal ini tidak dibatasi, maka efek keuangannya akan menyeluruh. Parahnya, akan mengalami krisis dalam hal kebutuhan pokok. “Maka dari itu, utamakan menabung meskipun jumlah yang disisihkan tergolong kecil,” saran Kenny. 

Nah, ParaMantra bisa mulai melakukan saran tersebut dari langkah kecil. Misalnya saja, menabung dan membuat pos anggaran. Sebagai permulaan, mungkin terasa sulit. Tapi, efeknya bisa panjang lho. Share pengalaman gaji numpang lewat lainnya di kolom komentar ya!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *